Something In Between (2018)

Udah lama pengin nonton film Indonesia di bioskop. Biasanya kehabisan sebelum sempet 😅 (suka cepet banget sih film lokal). Kali ini dibela-belain nonton sebelum ilang beneran dari peredaran. Ini pun nontonnya bukan di bioskop langganan karena hari ini di sana udah nggak ada (padahal kemarin masih ada).

dari Cinemags

Sebelum nonton sempat beberapa kali lihat komentar orang tentang film ini di medsos. Katanya ceritanya unik dan nggak ketebak. Setelah nonton sendiri, ya bener sih. Film ini kuat di jalan ceritanya. Lapisannya banyak walau alurnya bergerak secara linear, jadi pas nonton kayak lihat lapisan itu dikupas satu per satu. Saya nggak berekspetasi apa-apa soal “nggak ketebak”-nya dan nggak terlalu terkejut juga sebenarnya, tapi tetap agak nggak nyangka akhirannya ternyata begitu ahaha. Saya sendiri tertarik pengin lihat film ini setelah baca sinopsisnya di web bioskop (selain karena ini cerita anak sekolahan). Begini sinopsisnya.

Continue reading “Something In Between (2018)”

Advertisements

Not Over You

Hanjin, Keane
916 words

Hanjin sudah hampir mengitari toko baju ini. Sudah selesai keliling melihat-lihat setiap gantungan dan tumpukan. Sudah capek deg-degan dan dengan putus asa berharap tubuhnya punya kemampuan menangkal rasa gugup. Setiap beberapa saat ia selalu melihat ke arah kerumunan yang lewat di sekitarnya. Jangan-jangan dia sudah datang tapi diam-diam? Ini pasar malam Sekaten, lho. Di alun-alun. Tempatnya luas dan terbuka. Ada banyak tempat untuk bersembunyi di dekat tenda toko baju di mana Hanjin menunggu. Dia pasti mau ngagetin, batin Hanjin yakin, kayak dulu.

Lalu Hanjin sadar, memangnya dia masih mau melakukan itu?

Continue reading “Not Over You”

Anak Laki-laki Berambut Cokelat Pastel

Mucha, Didit
696 words

Anak laki-laki berambut cokelat pastel itu baru saja selesai memperlihatkan aksi-aksi tari akrobatik tradisional yang berhasil memukau orang-orang yang duduk di sekitar panggung terbuka. Begitu musik gaduh yang mengiringinya berhenti, semua orang bertepuk tangan. Bertopang dagu, Mucha memperhatikan bagaimana anak laki-laki itu minggir dari panggung dan tersenyum pada temannya yang memberinya sebungkus tisu dan sebotol air putih. Senyumnya lucu sekali, Mucha berkomentar dalam hati. Pencahayaan di pinggir panggung terbuka tempat anak laki-laki itu dan teman-temannya berkumpul agak remang, tapi rambut anak laki-laki itu tetap terlihat sedikit lebih terang dibanding rambut anak-anak lainnya. Warna yang selalu mengingatkan Mucha pada susu Milo. Mucha tersenyum, terbayang segelas Milo hangat.

Continue reading “Anak Laki-laki Berambut Cokelat Pastel”

A Day in the Theme Park

Cindy, Winwin
1.2k words

Cindy tidak tahu lagi siapa yang sedang bete di sini. Mereka datang ke taman hiburan ini karena Winwin minta ditemani main-main. Pengin memperbaiki suasana hati yang jelek seharian, katanya. Seharian apanya kalau sebelum dua puluh empat jam saja dia sudah tertawa-tawa lagi menikmati apa pun yang menarik perhatiannya di tempat ini. Cindy ditinggal-tinggal terus seakan-akan dia hanya datang sendiri. Tiap kali Cindy bilang mau pulang saja, Winwin mencegahnya. Cindy jadi tidak tahu lagi apa yang sebenarnya ia lakukan di sini. Mengasuh bayi?

Demi Tuhan, Cindy kira mereka berpacaran.

Continue reading “A Day in the Theme Park”

Under the City Lights

Naz, Jaehyun
993 words

Mereka selalu lewat di jalan yang sama, dan selalu ke arah yang berlawanan. Naz sudah cukup lama memperhatikannya. Mantel cokelat, tas hitam, sepatu Converse kuning. Sepatu itu yang paling mencolok. Sepatu itu juga yang membuat Naz dengan mudah mengenalinya setiap kali mereka berpapasan, terutama ketika laki-laki itu sedang mengenakan masker. Lama-lama yang Naz hafal tidak hanya sepatunya. Naz hafal figurnya, tatanan rambutnya, wajahnya, senyumnya. Yang belum Naz tahu adalah suaranya. Mereka tidak pernah saling sapa, apalagi mengobrol. Kenal saja tidak. Dan Naz tidak tahu di mana lagi mereka bisa bertemu kalau bukan di jalan itu.

Continue reading “Under the City Lights”

Pasar Setiap Pagi

Kiki, Jaehyun
1.3k words

Akhir-akhir ini aku senang pergi ke pasar. Aku rela bangun pagi-pagi untuk itu. Sebenarnya agak sayang juga. Beberapa jam waktuku yang bisa kugunakan untuk tidur sampai siang atau spa mandiri di kamar mandi jadi terbuang sia-sia. Iya, sia-sia. Sebab apa yang kulakukan di pasar itu adalah perbuatan tersia-sia sedunia. Jauh lebih sia-sia daripada internetan seharian melihat foto cowok-cowok ganteng di linimasa Twitter. Paling sia-sia dari yang bisa dilakukan seorang Kiki.

Aku sudah cukup kesal menyadari waktuku yang berharga itu kusia-siakan untuk hal seperti ini. Tapi aku lebih kesal lagi ketika badanku tetap saja bergerak bangun pukul setengah enam pagi, mandi sebentar, berdandan kasual yang cantik, lalu berjalan ringan ke pasar dengan lagak ingin berbelanja sayur-sayuran (aku bahkan membawa tas khusus untuk itu, demi Tuhan!). Padahal, masak di rumah saja jarang. Tanteku sampai heran melihatku memberinya beragam sayur-mayur setiap pagi. “Buat apa sayur-sayur ini? Di kulkas kan udah banyak,” keluh tanteku. Keponakanku memelihara kelinci di belakang rumah. Om juga punya kambing. Tanteku seharusnya bersyukur aku tidak membuang sayur-mayur itu ke kandang mereka. Tapi aku hanya mengangkat bahu. “Yang jual ganteng, Tan. Aku jadi kasihan sama dia,” kataku santai sambil melenggang ke ruang depan.

Tanteku semakin bingung. “Apa hubungannya ganteng sama kasihan?”

Continue reading “Pasar Setiap Pagi”

The Girl Who Doesn’t Reply

Taeyong, Ten, Gaby
5.4k words

Jaket putih Taeyong yang agak kebesaran membuatnya terlihat seperti gundukan salju ketika duduk bersila di salah satu sudut lantai satu gedung Michelangelo, terlebih tudungnya diangkat menutupi kepala. Dinding di belakangnya dan sofa yang didudukinya pun berwarna putih. Paha kanannya sudah setengah jam ini dijadikan landasan menulis. Kertas yang ditulisinya sudah setengah terisi. Taeyong masih mau memikirkan beberapa kalimat lagi untuk mengakhiri surat ini dengan perasaan yang menyenangkan. Meskipun pada akhirnya penolakanlah yang akan ia dapat, Taeyong ingin merasa senang telah berani menyampaikan ajakannya.

Continue reading “The Girl Who Doesn’t Reply”